Tampilkan postingan dengan label HEADLINES. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HEADLINES. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Maret 2014

Timika - Kepolisian Re­sor Mimika, Papua, akan mengge­lar upacara pengi­ba­ran Ben­de­ra Merah Putih di Puncak Car­tensz, satu da­ri tujuh pun­cak ter­tinggi di dunia dalam rangka meme­riahkan pering­a­tan ke 68 HUT Proklamasi Kemerde­ka­an Republik Indonesia.
Kapolres Mimika, AKBP Jermias Rontini di Timika meng­atakan, kegiatan pe­ng­i­ba­ran Bendera Merah Putih sekaligus pembersi­han sam­pah di kawa­san Puncak Car­tensz rencana­nya akan dila­ku­kan pada 13 atau 14 Agus­tus 2013.
Kegiatan itu rencananya akan dihadiri langsung oleh Kapolda Papua, Irjen Polisi Tito Carnavian.
“Kami dari Kepolisian Re­sor Mimika dengan duku­ng­an pe­nuh dari Ka­polda Papua akan me­nye­leng­garakan upacara se­­derhana me­ng­i­barkan Ben­dera Merah Putih di Pun­cak Cartensz. Tu­juan dari ke­gia­tan ini dalam rangka mem­pe­ringati HUT Kemerde­ka­an RI sekali­gus untuk mem­perkenal­kan ob­yek wi­sata Carten­sz,” jelas Rontini.
Tim akan dili­bat­kan da­lam ke­ gia­tan itu, terdiri atas sejumlah ang­gota Bri­mob Deta­se­men B Polda Papua, masy­a­rakat sekitar kawasan Pun­cak Cartensz dan sejumlah personel dari PT Freeport Indonesia yakni De­parte­men Lingkungan, RS SOS Tembaga­pura, Emer­gency Response Grup dan Departemen Security Risk & Manaje­men.
Dalam rangka persiapan pengi­baran Bendera Merah Putih di Pun­cak Cartensz, Tim Polres Mimika bersama PT Adventure Cartensz berangkat menuju puncak tertinggi di Papua dan Indonesia itu untuk melakukan aklima­tisasi atau penye­suaian suhu dan cuaca.
“Kalau saat itu cuacanya bagus maka Kapolda Papua akan terbang de­ngan helikopter ke kawa­san Puncak Cartensz. Di sana su­dah menunggu tim kita yang akan mengibarkan Ben­dera Merah Putih,” jelas Rontini.
Usai upacara singkat pengiba­ran Bendera Merah Putih, rombong­an akan melanjutkan dengan kegia­tan pembersihan sampah di lokasi yang hingga kini masih ditutupi salju abadi. Sampah dari Puncak Cartensz nanti­nya akan diangkut helikopter.
Direktur PT Adventure Cartensz, Maximus Tipagau mengatakan ke­gia­tan pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Cartensz sangat be­rarti bagi masyarakat kawasan Pun­cak Cartensz dan untuk peng­embangan pariwisata di lokasi ter­sebut. Ast
Bursa nama calon Kepala Kepolisian RI (Kapolri) terus bermunculan menjelang pergantian Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Timur Pradopo yang akan memasuki masa pensiun bulan Februari 2014.
Berikut hasil Analisa pendiri Koran Berita Investigasi Nasional (Koran BIN) dan Portal Media Indonesia yakni AA panggilan akrab Mochamad AA.
Jenderal Timur Pradopo
Kursi Tri Brata I (TB I), sebutan untuk Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), akan segera ditinggalkan Jenderal Timur Pradopo jika Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono memutuskan untuk menggantinya tahun ini sebelum Timur resmi pensiun pada bulan Januari 2014.

April lalu, Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha pernah mengatakan bahwa Presiden berencana mengganti Timur sekitar bulan Agustus atau September 2013.

Mendengar rencana Presiden itu, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) langsung menggodok sejumlah nama yang dinilai berpotensi menjadi calon kapolri.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian RI, Kompolnas berwenang memberikan saran dan pertimbangan calon kapolri kepada Presiden.

Kompolnas mengaku telah melakukan penelusuran rekam jejak hingga akhirnya jatuh kepada sebelas nama, baik jenderal bintang tiga maupun bintang dua.

Sebelas nama itu adalah Kepala Badan Reserse Kriminal Polri (Kabareskrim) Komisaris Jenderal (Komjen) Sutarman, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Anang Iskandar, Kepala Lembaga Pendidikan Polri (Kalemdikpol) Komjen Budi Gunawan, Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal (Irjen) Putut Eko Bayu Seno, Kadiv TI Irjen Tubagus Anis Angkawijaya, Wakabareskrim Polri Irjen Anas Yusuf, Asisten Operasi Kapolri Irjen Badrodin Haiti, Kapolda Bali Irjen Arif Wachjunadi, Kapolda Sumatera Selatan Irjen Saud Usman Nasution, Kakorlantas Polri Irjen Pudji Hartanto, dan Kepala Divisi Hukum Polri Irjen Anton Setiadi.
Komjen Sutarman
Adapun syarat menjadi calon kapolri ialah berpangkat komjen dan pernah menjabat sebagai kapolda. Mereka yang masih berpangkat irjen harus menduduki posisi jenderal bintang tiga terlebih dahulu.

Sejumlah nama itu nantinya akan disaring kembali untuk kemudian diserahkan kepada Presiden. Kompolnas akan merundingkan nama yang diserahkan ke Presiden setelah melakukan rapat dengan Ketua Kompolnas Djoko Suyanto yang juga Menteri Politik Hukum dan HAM.


“Kami bertemu Ketua Kompolnas lebih dulu, kemudian serahkan ke Presiden,” kata anggota Kompolnas Hamidah Abdurrahman.
Mendekati rencana Presiden itu, Kompolnas bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah memanggil para calon untuk melapor harta kekayaannya.

Ada sembilan nama yang sudah menyerahkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) ke KPK pada akhir Juli. Sementara itu, Pudji dan Anton Setiadi belum melakukannya.


Kabaharkam, Batu Loncatan

Persaingan menduduki kursi kapolri kini makin terlihat setelah Komisaris Jenderal (Purn) Nanan Sukarna resmi meninggalkan jabatan Wakil Kepala Kepolisian RI karena pensiun. Komjen Oegroseno hari ini sudah resmi meninggalkan jabatan Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Polri untuk menduduki posisi Wakapolri.

Adapun pengganti Oegroseno rencananya akan diisi oleh Irjen (Pol) Badrodin.
Dengan demikian, perwira tinggi berpangkat Komisaris Jenderal akan bertambah setelah nantinya Badrodin resmi dilantik menjadi Kabaharkam. Posisi Kabaharkam “dipercaya” bisa menjadi batu loncatan Badarodin menuju kursi Tri Brata I.

Jika Badrodin yang naik menjadi kapolri, prosesnya persis sama dengan jalan karier Timur. Pada tahun 2010 lalu, tak banyak yang menyangka Presiden akan memilih Timur.
Saat itu, Timur baru saja menjabat Kabaharkam lalu kemudian dilantik Presiden menjadi Kapolri pada 22 Oktober 2010 lalu.

“Badrodin memungkinkan jadi kapolri. Kalau tidak ada jabatan bintang tiga yang akan kosong lagi dan Presiden jadi mengganti kapolri tahun ini, maka tertutup peluang untuk bintang dua yang lain,” ujar pengamat kepolisian, Bambang Widodo Umar.

Badrodin merupakan alumnus terbaik Akademi Kepolisian angkatan 1982 dan meraih Adhi Makayasa. Pria kelahiran Jember 24 Juli 1958 itu pernah menjabat Kapolda Jawa Timur dan Kapolda Sumatera Utara.


Siapa Berpeluang Besar?

Persaingan bintang kali ini juga diisi oleh para lulusan Akademi Kepolisian angkatan 1981. Angkatan 1981 dinilai berpeluang besar mengingat Presiden telah memilih Jenderal TNI Moeldoko sebagai Kepala Staf Angkatan Darat TNI yang juga angkatan 1981 di Akademi Militer. Moeldoko saat ini juga disebut-sebut akan menempati posisi Panglima TNI.

Seperti diketahui, Timur dan Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono juga satu angkatan, yakni 1978. Akankah kapolri baru juga diisi angkatan 81?

“Memang ada kecenderungan itu,” ujar Bambang.

Bambang sendiri tidak setuju jika pemilihan calon kapolri berdasarkan pertimbangan angkatan.

Menurut dia, tidak masalah jika ada yunior atau angkatan setelah 1981, seperti 1982 hingga 1984, yang malah lebih baik kualitasnya dibanding senior di Akpol.

Mereka yang berada di angkatan 1981 ialah Sutarman dan Tubagus Anis, dan Saud Usman Nasution. Kemudian, para nama calon kali ini juga diisi para mantan ajudan Presiden RI.

Mereka ialah Sutarman yang pernah menjadi ajudan Presiden RI pada masa pimpinan Abdurrahman Wahid alias Gusdur. Selain itu, ada Budi Gunawan pada masa Megawati Soekarnoputri dan Putut Eko pada masa pimpinan SBY periode 2004-2009.

Entah siapa nantinya nama calon yang akan dikirim Presiden ke DPR RI. Bisa saja di luar nama-nama yang kini beredar. Presiden diminta mengirim lebih dari satu nama calon. Pasalnya pemilihan calon kapolri oleh Presiden akan lebih banyak pada pertimbangan politis.

“Ya, pertimbangan lebih bersifat politis, tidak mencari sosok yang memiliki kepemimpinan yang benar-benar berkualitas.

Pertimbangan politik itu bagaimana loyalitas kepada pemerintah, mau mendukung pemerintahan.

Kita negara demokrasi, tapi syarat berdemokrasi di Indonesia belum tertata dengan benar,” kata Bambang.
Adanya borok oknum aparat berbaju coklat itu sudah bukan rahasia publik lagi. Berharap, posisi kapolri nantinya diisi seorang jenderal yang jujur, bersih, tegas, dan berani melakukan perubahan di Korps Bhayangkara itu sesuai makna dalam Tri Brata Polri.


Priyo prediksi Sutarman jadi Kapolri

Wakil Ketua DPR RI, Priyo Budi Santoso, memprediksi Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim) Mabes Polri, Komisaris Jenderal (Komjen) Sutarman akan menjadi Kepala Kepolisian RI menggantikan Jenderal Timur Pradopo yang sebentar lagi akan memasuki masa pensiun.

Menurut Priyo, dibanding Komjen Budi Gunawan dan Komjen Anang Iskandar, Sutarman lebih menonjol di lingkungan Polri.

"Masing-masing punya kelebihan. Tapi Komjen Sutarman adalah kandidat yang potensial tapi walaupun yang lain juga figur yang baik," kata Priyo di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jakarta.

Saat ini, kata Priyo, pimpinan DPR RI belum menerima surat dari Presiden SBY terkait calon Kapolri tersebut.

"Kami di DPR RI tunggu proses dari Presiden SBY saja dan pada saat Presiden kirim surat kepada pimpinan DPR RI tentang calon Kapolri, saya pastikan akan kita proses sesuai prosedur," kata dia.
Pergantian Kapolri yang bersamaan waktunya dengan pergantian Panglima TNI, baru, disarankan oleh Priyo untuk tidak dilakukan bersamaan.

"Saya hanya bisa sarankan, membarengkan waktu untuk pergantian Panglima TNI dan Kapolri, perlu dihitung dari segi momentum. Disarankan, dibedakan waktunya. Mungkin Panglima TNI dulu, baru setelah itu Kapolri. Tapi semua terpulang ke Presiden. Alasannya momentum saja. Ada bagusnya tidak bersamaan," kata Priyo.

Saat ini, Komjen Sutarman merupakan Kabareskrim Mabes Polri. Sutarman juga pernah menjadi ajudan mantan Presiden KH Abdurahman Wahid. Sementara, Komjen Budi Gunawan pernah menjadi ajudan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri. Sedangkan Komjen Anang Iskandar, saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN). AA

Selasa, 11 Maret 2014



Perjalanan karier jenderal kelahiran Kediri, Jawa Timur, 8 Juli 1957 itu melejit sejak menjabat Kasdam Jaya (2008). Bahkan pada tahun 2010, dia mengalami tiga kali rotasi jabatan dan kenaikan pangkat mulai dari Pangdiv 1/Kostrad (Juni-Juli 2010), menjadi Pangdam XII/Tanjungpura (Juli-Oktober 2010) dan Pangdam III/Siliwangi (Oktober 2010-Agustus 2011). Lalu Agustus 2011 menjabat Wakil Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional sebelum menjabat Wakasad (Februari 2013) hingga dipercaya sebagai Kepala Staf TNI AD (KSAD) 22 Mei 2013.


Panglima RI Jenderal Moeldoko
Jakarta - Semula, sam­pai dia menjabat Wakil Gu­bernur Lemhannas, tidak ba­nyak orang yang mempredik­si Moeldoko akan menjadi peng­ganti Laksamana TNI Panglima TNI (2010-2013) Agus Suhartono sebagai Panglima TNI. Bahkan ketika Moel­doko dilantik jadi Waka­sad pun masih hampir tidak ada yang memprediksi dia akan menjadi Panglima TNI. Banyak orang justru mengira ipar Presiden Republik Indonesia Keenam (2004-2014) Presiden SBY, Jenderal TNI Kepala Staf TNI-AD Pramono Edhie Wibowo (Kepala Staf TNI AD) lah akan menjadi Pang­lima TNI. Dan Moeldoko hanya akan jadi Kasad.
Tapi, ternyata, tak sampai dua bulan berikutnya, Moel­doko naik pangkat menjadi Letnan Jenderal dengan jaba­tan Wakil Gubernur Lemhan­nas. Kemudian menjadi Wa­ka­sad (Februari 2013) dan naik lagi jadi Kasad pada 22 Mei 2013 dengan pangkat bin­tang empat (Jenderal). Lalu, hanya tiga bulan berikutnya se­telah menjabat Kasad, Pre­siden Presiden Republik Indonesia Keenam (2004-2014) Susilo Bambang Yudhoyono menetapkannya sebagai ca­lon tunggal Panglima TNI.

Visi Dan Misinya
Jenderal Moeldoko meng­a­ta­kan saat ini ada bahaya-bahaya baru yang membaha­yakan tidak hanya keamanan nasional, tetapi juga keama­nan internasional. Oleh karena itu, ia bertekad merevitalisasi ketahanan TNI untuk mene­kan pergerakan aksi teroris­me.
Moeldoko menegaskan, TNI harus siap sedia setiap saat. Bukan hanya untuk meng­hadapi perang simetrik, tetapi juga perang asimetrik yang tak beraturan. Hal itu se­suai dengan visi dan misi TNI sebagai komponen utama per­tahanan negara yang tang­guh. Untuk itu, Moeldoko me­ma­parkan gagasan strategis yang akan digulirkannya bila di­­percaya memimpin TNI yaitu inovasi, profesionalisme, dan keutuhan NKRI. Pernya­ta­an ini, disambut tepuk tang­an.
Dia juga memberi perhati­an pada peningkatan disiplin dan kesejahteraan prajurit, pe­negakan hukum dan HAM, serta penyelesaian perangkat lunak TNI. Dia juga memapar­kan data mengenai kecilnya rasio personel TNI dihadapkan dengan pelaksanaan area tugas. Rasio TNI hanya 1:5,7­9 kilometer persegi, sedang­kan Malaysia 1:4,12 kilometer, Thailand 1:2,71 kilometer persegi, dan Singapura 1:0,01 kilometer persegi. Sementara itu, rasio prajurit TNI dalam men­jaga keselamatan jiwa ada­lah 1:722 orang, Malaysia 1:310 orang, Thailand 1:342 orang, dan Singapura 1:91 orang. Maka untuk mengem­bang­kan rasio tersebut, dia me­maparkan pentingnya me­ningkatkan SDM dan alutsis­ta.

Menjanjikan Inovasi Internal Di Tubuh TNI
Moeldoko menjanjikan ino­vasi internal di tubuh TNI. Me­nurutnya, dengan kekuatan personel dan rasio pengguna­annya, perlu komitmen tinggi untuk meningkatkan profesio­na­­lisme dan kesejahteraan prajurit TNI. Profesional kare­na terlatih dan terdidik, serta sejahtera sebagai prajurit TNI dalam melaksanakan tugas.
Dia menjelaskan sebagai prajurit militer, kesejahteraan dapat diartikan bahwa prajurit dilengkapi dengan alutsista yang andal dan ergonomis, dan prajurit TNI juga dijamin hak-haknya untuk hidup layak dengan status sebagai prajurit TNI.
Moeldoko memaparkan ga­gasan inovasi teknologi dan manajemen terpadu dengan pemilihan alutsista yang me­miliki teknologi serta ergo­no­mis. Dia bilang, melengkapi prajurit dengan perlengkapan berteknologi canggih mungkin terlihat mahal dalam jangka pen­dek, tetapi efisien dalam jangka panjang.
“Pemilihan alutsista deng­an teknologi tinggi, dapat me­ng­urangi jumlah personel se­ca­ra signifikan atau setidak­nya bisa bertahan pada zero growth,” jelasnya.
Dia pun akan mengurangi risiko ketergantungan pada alutsis­ta dari luar negeri. Hal ini akan dila­kukannya untuk menciptakan ke­man­dirian pada jangka meneng­ah dan jangka panjang sekaligus men­cegah penyadapan oleh pihak la­wan yang dapat berimplikasi pada jatuhnya korban prajurit TNI yang lebih banyak.
Jenderal Moeldoko tampaknya benar-benar ingin mengubah wajah TNI agar lebih ramah dan disukai masyarakat.
“Saya akan menempatkan TNI sebagai perawan yang cantik, me­narik, semua orang ingin memiliki, bisa diterima siapa pun. Saya ingin menjadikan tentara yang memiliki segalanya sehingga semua orang ingin memiliki,” kata Moeldoko
Jenderal TNI Moeldoko merupa­kan perwira penerima Bintang Adi­ma­kayasa sebagai lulusan terbaik Akabri tahun 1981. Lahir di Kediri, Jawa Timur, 8 Juli 1957. 
Perjalanan karier Jenderal Moel­doko diawali di Yonif Linud 700 Kodam VII/Wirabuana pada tahun 1981 sebagai Komandan Peleton. 
Pengalaman tugas operasi yaitu operasi seroja Tim-tim 1984 dan Konga garuda XI-A tahun 1995. Penugasan luar negeri ke Singa­pura, Jepang, Irak-Kuwait, Amerika Serikat, dan Kanada. 
Tugas belajar ke Selandia Baru Tahun 1983 dan 1987 Tanda kehor­matan negara yang diraih berupa Satya Lencana Kesetiaan VII, XVI dan XXVI tahun, Satya Lencana Seroja, Tanda Jasa dari PBB, Satya Lencana Santi Dharma, Bintang Kartika Eka Paksi Nararya, Bin­tang Yudha Dharma Nararya, dan Bintang Kartika Eka Paksi Utama. 

Semasa Kecil
Moeldoko, semasa kecil me­nge­nal tirakat. Ia selalu berpuasa setiap Senin dan Kamis, dan taat un­tuk tidak menyentuh makanan dan minuman hingga matahari ter­benam di ufuk barat.
Selain itu, Moeldoko seorang pe­kerja keras. Selalu berkeringat, ce­katan dan nyaris tak pernah me­li­pat jemari tangan. Semua di­ker­jakannya. Apa yang bisa me­nopang kebutuhan keluarga dilakukanya. Maklumlah, kedua orangtuanya bu­kan berasal dari golongan ekonomi mapan.
“Saat Moeldoko masih dalam kan­dungan, bapak dan ibunya ber­puasa hingga 40 hari. Orang tua­nya  berharap kelak anaknya bi­sa menjadi orang besar,” tutur Haji Mu­hammad Sujak (76), kakak kan­dung Jendral Moedoko kala di ru­mahnya di Desa Pesing.
Doa kedua orang tua Moeldoko dikabulkan oleh Allah Swt, kini to­koh militer asal Desa Pesing, Ke­ca­matan Purwoasri, Kabupaten Ke­diri tersebut menjadi  Panglima TNI Republik Indonesia, menggan­tikan Laksamana Agus Suhartono yang pensiun akhir Agustus 2013.
Rumah yang ditempati Sujak ini  adalah tempat tinggal mendiang pasangan suami istri Moestaman dan  Hj Masfuah, yang juga orang tua Jendral Moeldoko.
Bangunannya tidak banyak be­rubah. Tidak ada renovasi. Ukuran­nya tetap kecil, memanjang ke be­la­kang, sedikit menjorok ke dalam, dan sederhana. Temboknya terlihat tua, rapuh dan kurang terpelihara. Di depan teras, terhampar pelata­ran semen yang berfungsi  untuk menjemur pakaian dan menge­ring­kan bulir padi panenan.
“Di sinilah Moeldoko (Jendral Moeldoko) lahir dan dibesarkan,“ terang Sujak di dampingi kepona­kan­nya.
Sebuah foto Jendral Moeldoko berbingkai murah tampak  meng­hias dinding ruang tamu. Foto itu baru dipasang bersamaan digelar­nya acara tasyakuran jabatan Pang­lima TNI belum lama ini.
Dibalik tembok dinding  adalah kamar Moeldoko. Di ruangan  beru­ku­ran sekitar 3x5 meter itulah Moel­doko biasa melepas penat se­te­lah seharian sekolah dan beker­ja. Di kamar yang tidak banyak be­rubah itu mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) itu  biasa meng­habiskan waktu bermanja-manja dengan ibundanya.
“Dia itu (Moeldoko) ketika kecil sam­pai besar (SMA), setiap tidur  se­lalu bersama ibu. Kamar itu dulu sebagian dindingnya anyaman bam­bu (gedek),“ jelasnya menge­nang.
Di keluarga,  Moeldoko adalah bungsu dari 12 bersaudara. Sujak adalah putra pertama dengan tiga orang adik yang  meninggal dunia ketika Moeldoko masih kecil.
Selain Moeldoko, Sujak juga me­miliki adik bernama Sugeng Ha­ri­yono yang pernah menjadi Danra­mil Purwoasri. Kemudian Siti Raha­yu, Supiyani yang bersuamikan ten­tara bernama Sabar berpangkat ma­yor, dan Suyono yang me­mang­ku kepercayaan kaur Desa Pesing.
Menurut Sujak, almarhum ayah­­nya (Moestaman) hanyalah se­orang pedagang palawija ala ka­darnya. Sementara Mustamah, men­diang ibunya, seorang  istri dan ibu rumah tangga biasa. Anak yang relatif banyak, dan penghasi­lan yang tidak menentu, membuat hi­dup keluarga ini serba kekurang­an.
Kendati demikian Moestaman dipercaya memangku jabatan se­bagai perangkat keamanan (jaga­baya) di desa.
“Karena keterbatasan itu, ke­luarga kami, termasuk Moeldoko ter­biasa menjadikan jagung dan singkong sebagai makanan pokok se­hari-hari,“ terang Sujak menging­at.
Meskipun miskin, Moestaman te­tap menekankan prinsip hidup bahwa anaknya harus mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Moel­doko mengenal pendidikan perta­ma di Sekolah Dasar Negeri Juntok 1. Kemudian setelah itu melanjut­kan ke SMP Negeri Papar, Kabu­pa­ten Kediri.
“Dari Papar, Moeldoko kemu­dian ikut saya di Jombang, sekolah di Sekolah Menengah Pertama Perta­nian (SMPP),” kenang Sujak.
Saat itu Sujak bekerja sebagai pem­borong proyek pembangunan plengsengan. Program brantas te­ngah yang memanjang dari wilayah Braan hingga Ploso dengan  me­ngambil batu dari Grebek, Kabu­pa­ten Nganjuk.
“Meski tidak pernah lepas ber­puasa, setiap pulang sekolah Moel­do­ko ikut membantu bekerja. Me­ngatur truk pengangkut material hingga memecah batu,“ kenang­nya.
Lulus SMPP, Moeldoko lang­sung berlanjut  ke Akademi Militer (Akmil) Magelang mulai tahun 1977. Mantan Pangdam XII Tan­jung­pura, Pangdam III Siliwangi dan Wagub Lemhanas itu lulus Akmil tahun 1981 dan mendapat anu­gerah bintang Adhi Makayasa sebagai lulusan terbaik.

Perjodohan Moeldoko Dengan Koesni Harningsih
Sebagai  saudara paling dekat, Su­jak mengaku tahu bagaimana adiknya bertemu dengan calon istri­nya berlangsung tidak sengaja. Moeldoko yang  menemani Supiya­ni (kakaknya) ke Malang, diajak mam­pir ke rumah almarhum Kasim di Pandaan. Kasim yang kelak men­jadi mertuanya adalah pemilik usa­ha PT Batu Mas. Sebuah peru­sa­­haan yang bergerak di bidang transportasi angkutan dan pembo­rong bangunan.
“Begitu pertama kali bertemu, calon mertuanya itu langsung suka dan meminta Supiyani menjodoh­kan adiknya (Moeldoko) dengan anaknya (Koesni Harning­sih),” te­rang Sujak.
Pernikahan Moeldoko dengan Koesni Harningsih dikaruniai dua buah hati, yakni Randy Bimantoro yang menjadi pengusaha di Ban­dung dan Novi yang saat ini masih menem­puh pendidikan di Inggris.
AA


Nama AKBP Anom Wibowo sudah tidak asing lagi bagi masyarakat Surabaya dan Madiun. Maklum saja, sosoknya acap kali muncul diberbagai media, baik cetak maupun elektronik.


AKBP Anom Wibowo SIK SH MSi
Madiun - Tentu saja ke­mun­culannya di media, tak lepas dari prestasi keberhasi­lan mengungkap maupun me­nangkap para pelaku kri­mi­nalitas, dan juga.
“Biasa aja mas, yang pen­ting tetap memberikan yang terbaik dan ikhlas mengabdi demi masyarakat Suraba­ya,”ujar AKBP Anom Wibowo.
Alumni Akpol ’94 ini me­nam­bahkan, sebagai pimpi­nan reskrim di jajaran Polres­tabes Surabaya, diperlukan sta­mina dan mental yang kuat. Selain membutuhkan ker­ja 24 jam lebih, juga diper­lukan intelegensia yang mum­puni dalam memecah benang kusut kasus kriminalitas.
Mantan Kasat Pidum Dit Reskrim Polda Jatim ini me­miliki kiat khusus untuk men­jaga kondisi fisik agar tetap sehat dan bugar, yaitu dengan rutin bermain sepakbola dan futsal.
“Kadang juga bermain fut­sal dengan rekan-rekan warta­wan, disamping melatih fisik, dengan bermain bola pikiran juga fresh.Apalagi saat me­ngejar bola, seperti mengejar pelaku kriminalitas. Harus ce­pat, fokus dan telaten,” ujar­nya.
Menurut Mochamad AA, SH, M.Hum (Advokat/Penga­cara/Penasehat Hukum) bah­wa AKBP Anom Wibowo yang pernah menjadi Kapol­res Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya ini banyak meng­ungkap kasus-kasus besar, diantaranya di Surabaya kasus penipuan CPNS, kasus uang palsu, ser­ta masih ba­nyak lagi. Di Madiun menangani sebanyak 12 kasus perjudian (judi togel, judi kartu, dan juga judi bola sodok) yang terjadi di wilayah hukumnya selama September 2013, ujar Mochamad AA, SH, M.Hum.
Selain mengungkap kasus perjudian, lanjut Mochamad AA, SH, M.Hum, se­be­lumnya Polres Madiun Kota juga me­mus­nahkan barang bukti narkoba dan mi­nu­man beralkohol hasil dari razia para pe­tugas.
Barang bukti narkoba yang dimus­nah­kan sebelumnya antara lain, sebanyak 106,4­1 gram sabu-sabu, ganja kering se­be­rat 2,9 kilogram, serta pil koplo seba­nyak 3.029 butir.
Jumlah minuman keras yang dimus­nah­kan mencapai 1.208 liter jenis arak jowo dalam berbagai kemasan botol air mineral dan jerigen. Serta, minuman ber­alkohol produksi pabrikan sebanyak 375 botol, ujarnya.

Antara Dukun dan Teknologi (lacak buronan)
Bukan perkara gampang untuk mela­cak buronan. Tidak jarang jasa dukun ma­sih menjadi pilihan ketika kepolisian diha­dapkan kebuntuan. Bahkan AKBP Anom Wibowo pun mengaku sempat sowan ke dukun. Namun, dari pengalamannya itu, Anom Wibowo itu pun mengimbau kepoli­sian meninggalkan perdukunan dan me­mi­lih teknologi.
Menurut Anom Wibowo, mental orang timur sulit untuk meninggalkan praktik perdukunan. Dia mengungkapkan, masih ada petugas mengutamakan dukun dalam penyidikan.
“Terkadang ada penyidik belum turun ke Tempat Kejadian Perkara (TKP) sudah ke dukun duluan, akhirnya hanya putar-putar tidak ada hasil,” ungkap lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) tahun 1994 itu.
Bahkan, dirinya juga mengaku sempat menempuh jalan dukun ketika dihadapkan dengan kebuntuan. Saat itu dia menjabat sebagai Kasatserse Porlesta Manado, Sulawesi Utara (Sulut) 10 tahun silam.
Kala itu ada bandar gede narkoba yang juga pemilik tempat hiburan malam di Manado, kabur ketika ditahan.
“Publik termasuk media massa meng­ang­gap kami ada main dengan tersangka, sehingga tersangka bisa kabur dari taha­nan,” ujarnya mengenang.
Dari kejadian itu, Anom bersusah pa­yah dengan anak bauhnya untuk menang­kap tahanan yang kabur. Dan, itu membu­tuhkan waktu sampai dua bulan sebab tersangka selalu berpindah-pindah tempat ketika dalam pelarian.
Tim Anom harus mengejar dari Manado ke Makassar, Gorontalo dan ke Suraba­ya.
“Bahkan, saya waktu itu harus menjual mobil milik saya sendiri. Dan uang pribadi saya juga habis untuk biaya operasional melakukan pengejaran,” tandasnya.
Segala cara dilakukannya, tapi hasil­nya nihil. Waktu itu teknologi informasi atau IT masih terbatas.
“Kejadian itu kan mencoreng nama baik, sebab masyarakat menilai kami main-main dengan tersangka, maka saya ha­rus membuktikan bahwa tuduhan itu tidak benar. Tapi, segala cara sudah men­tok, akhirnya saya coba pakai dukun, tapi ha­silnya nihil juga,” tandasnya.
Dengan pengalaman itu, Anom meng­a­ta­kan, menggunakan praktik perdukunan dalam mengungkap suatu kasus harus ditinggalkan.
“Polisi kan sudah dibekali ilmu tentang kepolisian dalam menjalankan tugas se­suai unitnya masing-masing, apalagi se­ka­rang teknologi sudah canggih,” ujarnya.
Manurut Anom Wibowo, polisi di za­man sekarang lebih mudah dalam menja­lankan tugas. Sebab kemajuan IT sudah pe­sat. Sehingga sangat membantu kerja kepolisian.
“Dengan menggunakan IT, kerja-kerja ke­polisian bisa lebih praktis, cepat dan efektif,” katanya.
Dengan menggunakan IT, standar kepastiannya lebih terukur.
“Seperti penggunaan IT forensik, uji ba­listik peluru, dan penggunaan email untuk melacak pelaku,” paparnya.
bapaknya bonek
Selain IT, sistem tradisional dan ma­nual dalam kepolisian juga cukup efektif, tapi bukanlah dukun.
“Jika harus mengorek informasi di la­pangan, petugas harus pandai memeran­kan diri agar tidak dicurigai dan ketahuan, harus pintar menyamar dan pandai berta­nya kepada informan,” jelasnya.
Prinsipnya, dalam mengungkap kasus adalah terletak pada kemampuan meng­olah TKP sebagai titik awal terjadinya per­buatan pidana.
“Dari TKP kita bisa menemukan fakta-fakta yang bisa dikembangkan,” ujarnya.
Sementraa itu, prestasi yang telah dica­painya sekarang menurut Anom tidak lepas dari kerja keras dan fokus dalam menjalani profesi sebagai polisi.
“Kuncinya hanya fokus,” ungkapnya.
Dia yakin, jika fokus dalam menjalani profesi apapun, pasti akan tercapai.
“Kalau tolah-toleh kanan kiri, sulit berhasil,” ucapnya.
Begitu juga dalam memberikan pelaya­nan kepada masyarakat, Anom menekan­kan pelayanan tanpa pamrih.
“Kalau membantu masyarakat tidak perlu berharap apa-apa, berikan pelayanan yang baik,” tandasnya.

Cita-cita Tentara
Satu sisi yang cukup menarik dari Anom adalah cita-citanya saat masih bo­cah. Anom sebenarnya memiliki cita-cita menjadi anggota TNI, bukan kepolisian. Ketika itu jiwa muda  Anom beranggapan  bahwa menjadi tentara adalah jabatan bergengsi. Bahkan ketika  menentukan pilihan pada formulir pendaftaran, pilihan satu sampai tiga, Anom memilih Akademi Militer (Akmil)
Tapi orangtuanya menyarankan untuk pilihan ke empat, agar memilih Akpol.
“Ternyata dari hasil serangkaian tes, sa­ya lolos masuk di Akpol, mungkin ke­hendak orangtua diridai Tuhan,” katanya.

Bapak Bonex Mania
AKBP Anom Wibowa, menjadi sosok paling mengesankan bagi pendukung klub sepak bola Persebaya, Bonex Mania. Pa­ra Bonex menganggap Anom sebagai Bapak dikalangan komunitasnya.
Menurut, Koordinator Bonex Republik Pecinta Olah Raga (Rempon), Handoyo, selama bergulirnya Liga Indonesia, Anom Wibowo selalu menjadi sosok penting bagi Bonex Mania. Anom juga merupakan sa­lah satu jajaran dikepengurusan Suporter anti Tawuran.
“Pak Anom selalu memberi­kan Wadah bagi kami,” ujarnya. Yitno/Guntur
BIODATA
Nama                           : AKBP Anom Wibowo SIK Msi

Tempat Tanggal Lahir : Jember, 12 – 6 – 1972

Istri                              : Eri Widyaningtyas (39 thn)

Anak                            : 1. Regina Ch. Derian Darasita thn 1997
2. Matthew Kelas 5 SD

Jenjang Kepangkatan

1. IPDA Tamat 26 - 7 - 1994
2. IPTU Tamat 01 - 09 - 1997
3. AKP Tamat 01 - 01 - 2000
4. KOMPOL Tamat 01 - 01 - 2005
5. AKBP Tamat 01 - 07 - 2009

Karir/Jabatan

Tanggal 1 - 8 - 1995       : Pamapta Polres Banyumas Polda Jateng
Tanggal 1 - 9 - 1997       : Kasat Serse Polres Purbalingga Polda Jateng
Tanggal 1 - 6 - 2001       : Pama Polda Sulut
Tanggal 1 - 4 - 2005       : Waka Polres Bolaang Mongondow Polda Sulut
Tanggal 20 - 12 - 2011   : Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak Polda Jatim
Tanggal 7 - 6 - 2013          : Kapolres Madiun Kota.

Sejarah panjang Polda Metro Jaya telah melahirkan para perwira Kepolisian yang memiliki komitmen yang tinggi terhadap masyarakat, termasuk melahirkan para kepala kepolisian daerah (Kapolda). Seperti Irjen Polisi Putut Eko Bayuseno yang saat ini menjadi Kapolda Metro Jaya. Siapa sebenarnya Putut?
Untuk mengenal lebih dekat sosok Kapolda Metro Jaya 1 ini berikut Profilnya.


Kapolda Metro Jaya, Irjen Putut Eko Bayu Seno
Jakarta - Inspektur Jendral (Irjen) Polisi Putut Eko Bayuseno, bukanlah nama yang asing diwilayah hukum Polda Metro Jaya. Sebab sebelumnya Putut pernah menjabat sebagai Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Metro Jaya pada tahun 2009 lalu.
Putut sempat malang-melintang bertugas sebagai anggota kepolisiaan yang profesional dan loyal terhadap tugas yang diembannya, pengalaman Putut, bapak tiga orang anak ini memang tidak diragukan lagi.
Putut memiliki perawakan yang santun dan pendiam. Namun, raut muka yang tegas serta ramah membuat dirinya cukup dihormati.

Profil Kapolda Metro Jaya

Nama                : Irjen Pol Drs. Putut Eko Bayu Seno, S.H
Tempat lahir      : Tulungagung, Jawa Timur,
Tanggal lahir     : 28 Mei 1961 adalah seorang perwira tinggi Polri dan pada 30 Okto­ber 2012
 menjabat  Ke­pa­la Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Kapolda Metro Jaya).
Agama              : Islam
Warga Negara   : Indonesia
Istri                   : Elisabeth Louise Correta Kapojos
Anak                 : tiga orang.
1. Bhatari Pratiwi Bayu Putri
2. Bhatara Indra Bayu Putra
3. Bhatari Agni Bayu Putri

Putut Eko Bayuseno dan Keluarga
a. Perjalanan Karir
Putut termasuk perwira dengan karier yang mengkilap. Karier kepempimpinan bapak tiga anak ini diawali dengan menjabat Kapolres Situbondo (2000-2001) dan kemudian menjabat Kapolres Jember selama dua tahun (2001-2003). Setelah berkarier di Kota Tembakau (Jember-red) Putut kemudian ditarik ke Mapolda Jawa Timur sebagai Korspripim (2003-2004).
Seiring naiknya Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden Republik Indonesia pada 20 Oktober 2004,[2] Putut pun ditugaskan sebagai ajudan presiden (Pamen De SDM Polri) selama lima tahun (2004-2009).
Menurut Ketua IPW, Neta S. Pane, salah satu faktor ditunjuknya Putut se­bagai Kapolda Metro karena mantan aju­dan SBY, dan presiden jelas butuh figur yang dapat dipercaya memimpin kepolisi­an ibu kota.
Naik pangkat sebagai jenderal, Putut ditugasi sebagai Wakapolda Metro Jaya (2009-2011), Kapolda Banten (2011) lalu mendapat pangkat irjen polisi dan terakhir menjabat Kapolda Jawa Barat (2011-2012).

b. Riwayat Jabatan 
  • 1984 : PA Staf PTIK
  • 1988 : Wakasat Sabhara Polresta Manado
  • 1989 : Kapolsekta Manado Utara
  • 1992 : Kapolsekta Manado Tengah
  • 1993 : Spri Kapolda Sulutteng
  • 1993  : PS Kabag Tatib Lantas Polda Sulutteng 
  • 1994 : Kabag Jianma Ditlantas Polda Sulutteng 
  • 1995 : Guru Muda Pusdik Lantas Polri
  • 1997 : Kabag Redigent Ditlantas Polda Jambi
  • 1997 : Pamen Polda Jambi
  • 1998 : Kabag Tatib Lantas Ditlantas Polda Jatim
  • 1999 : Kabag Redigent Ditlantas Polda Jatim
  • 2000 : Kapolres Situbondo Polwil Besuki Polda Jatim
  • 2001 : Kapolres Jember Polwil Besuki Polda Jatim
  • 2003 : Korspripim Polda Jatim
  • 2004 : Pamen Desumdaman Polri (Ajudan Presiden RI)
  • 2009 : Wakapolda Metro Jaya
  • 2011 : Kapolda Banten
  • 2011 : Kapolda Jabar
  • 2012 : Kapolda Metro Jaya
c.  Penghargaan
n Bintang Bhayangkara Pratama. NN

Unordered List

Sample Text

10 NOVEMBER

10 NOVEMBER

SELAMAT

SELAMAT

PELANTIKAN KAPOLRI

PELANTIKAN KAPOLRI

IDUL FITRI

IDUL FITRI

125 Px

280 Px

280 Px

120 Px

Pages

280 Px

Diberdayakan oleh Blogger.

940 Px

Social Icons

Followers

Featured Posts

Popular Posts

Recent Posts

Text Widget